Ada beberapa situs yang berada di kabupaten pandeglang, yang mungkin kini sudah hampir terlupakan karena sudah tergilas oleh perkembangan jaman. Situs ini merupakan bukti ada nya peradaban jaman dahulu di kabupaten pandeglang. Kita harap warga pandeglang bisa bangga karena memiliki situs-situs tersebut, dan bisa merawat dan melestarikan situs-situs tersebut agar anak-anak dan cucu-cucu kita bisa menikmati dan mengetahui nya sesuatu saat nanti. Sejarah itu seharus nya diceritakan ke anak dan cucu kita agar tidak terlupakan.

            Ini dia 5 situs yang ada di Pandeglang, versi Infopandeglang :

  1. SITUS BATU GOONG

Situs Batu Goong secara administratif terletak di Kampung Cigadung, Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Untuk menuju lokasi situs tidaklah sulit, mengingat lokasinya berdekatan dengan pusat pariwisata Pantai Carita dan Labuan. Kita bisa menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Kendaraan umum untuk daerah kesana masih terbatas, kita sarankan menggunakan kendaraan pribadi.

konon dinamakannya batu goong, karena beberapa artefak batu yang ada di kompleks ini memiliki bentuk seperti gamelan/kenong (dalam bahasa sunda Goong), sehingga masyarakat biasa menyebutnya batu goong.

Keberadaan situs Batu Goong mulai diteliti pada tahun 1995-2009 oleh Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala, dan menyimpulkan bahwa peninggalan arkeologis tersebut berasal dari budaya tradisi megalitik, dan merupakan salah satu corak budaya prasejarah yang berkembang menembus kurun waktu sejarah.

2. SITUS CIHUNJURAN

Situs Cihunjuran, berada di Kampung Cihunjuran, Desa Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang. Pada lokasi terdapat sebuahtempat  pemandian yang biasa digunakan pengunjung untuk berwisata. Lokasi ini juga telah ditetapkan sebagai objek wisata oleh pemerintah Kabupaten Pandeglang. Area pemandian berbentuk berupa kolam beralas batu-batuan, air yang ada di dalamnya masih jernih.. Kolam ini dikelilingi pepohonan yang membuat suasana sekitar menjadi sejuk.

Pada 2001 para arkeolog melakukan survey dan menemukan beberapa artefak yang, mengindikasikan bekas ada nya pemukiman lama. Beberapa jejak sejarah yang ditemui di lokasi tersebut berupa menhir, batu berlubang, lumpang batu, pipisan dan sejumlah pecahan gerabah dan keramik ditemukan. Jejak ini terkonsentrasi pada sekitar mata air pada sebuah tebing sebelah utara Gunung Pulosari.

3. SITU BATU RANJANG

Situs Ranjang secara administratif terletak di Kampung Cidaresi, Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Pada situs ini terdapat sebongkah batu andesit dengan bagian atas rata menyerupai tempat tidur atau biasa disebut sebagai dolmen. Dalam tradisi megalitik, dolmen memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai kuburan dan tempat pemujaan. Namun sampai saat ini, belum diketahui  secara pasti fungsi dolmen di Batu Ranjang karena belum  ditemukan data pendukung dalam bentuk unsur megalitik lain seperti menhir (Sukendar, 1982: 5; Djaenuderadjat, 2001: 30 – 31).

Wisata Batu Ranjang di Cipeucang Pandeglang, Banten tersebut memiliki pesona keindahan yang sangat menarik dan unik untuk dikunjungi. Jangan lupa untuk menyempatkan waktu untuk berkunjung ketempat besejarah ini.

4. SITUS BATU TONGTRONG

Situs batu di perumahan penduduk yang terletak tepat di kaki Gunung Pulosari, Desa Cipeucang, Kampung Batu Ranjang, Pandeglang, Banten. Situs Batu yang berada di Cipeucang ini terdiri dari tiga batu, yakni Batu Tongtrong, Batu Orok, dan Batu Lumpang. Mitos yang beredar salah satu dari 3 batu ini turun sendir dari gunung pulosari, sehingga situs ini dianggap mistis oleh masyarakat sekitar. Disebut batu tongtrongan karena bentuk nya seperti “kentongan”. Situs ini masih kurang terekspos media online membuat orang luar tidak mengetahui keberadaannya.

5. SITUS BATU QUR’AN

Menurut catatan sejarah, awal mula munculnya pemandian Batu Quran yang terletak di kaki Gunung Karang, tepatnya di Desa Kadubumbang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang berkaitan erat dengan Syekh Maulana Mansyur, ulama Banten yang terkenal di abad ke 15. Konon lokasi di mana Batu Quran ini dahulu diyakini adalah pijakan kaki Syekh Maulana Mansyur ketika hendak pergi berhaji ke tanah suci, Mekkah.

Dengan membaca basmalah sampailah beliau ke tanah suci, Mekkah. Ketika Syekh Maulana Mansyur pulang dari Mekkah, dia muncul bersama dengan air dari tanah yang tidak berhenti mengucur. Banyak orang menyakini bahwa air yang mengucur tersebut adalah air zam zam. Syekh Maulana Mansyur kemudian bermunajat kepada Allah dengan salat dua rakaat di dekat keluarnya air tersebut. Selesai salat Syekh Maulana Mansyur kemudian mendapat petunjuk untuk menutup air tersebut dengan Alquran, dan Alquran tersebut berubah menjadi batu dan akhirnya jadi dinamakan batu Qur’an. Konon diyakini hanya orang dengan hati dan jiwa yang bersih bisa melihat tulisan Alquran pada batunya.

Saat ini air kolam di lokasi pemandian Batu Quran banyak dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. konon dengan cara melakukan ritual mandi di Batu Quran seseorang diyakini tetap awet muda dan memiliki pancaran aura yang mempesona. Wallahualam Bishawab.

(gambar-gambar yang terlampir bersumber dari: google.com)

Bagikan artikel:

Tinggalkan Balasan